Jumat, 06 Maret 2009

Sejarah Buruk Bangsa Indonesia

Kalau melihat berita-berita tentang korupsi di televisi, kadang-kadang kita jadi berfikir kenapa mereka sampai hati melakukan perbuatan keji seperti itu. Mencuri uang rakyat bermilyar-milyar rupiah yang berarti juga menambah penderitaan anak-anak yang putus sekolah, orang-orang tua yang tidak punya tempat tinggal atau kampung-kampung terpencil yang belum ada saluran listriknya. Kemudian kita jadi bertanya, adakah penjelasan yang mungkin untuk menjawab pertanyaan diatas? Adakah sebab yang mungkin membuat mereka (para koruptor) bisa menjadi raja tega seperti itu. Kalau penjelasan yang mungkin pastinya ada.

Pertama, hal tersebut mungkin karena sifat dan karakteristik manusia Indonesia sendiri yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan (jawa=aji mumpung). Setidaknya hal ini dibuktikan oleh sejarah panjang bangsa Indonesia sendiri. Ketika Indonesia masih dalam masa kerajaan, banyak orang yang ingin mendapat kekuasaan meskipun itu pejabat rendahan karena mereka berfikir bahwa dengan jabatan itu mereka bisa mengeruk keuntungan dari pajak rakyat, mumpung bisa dapat uang dengan mudah. Sehingga selanjutnya apapun dilakukan untuk mendapatkan jabatan (baca-kesempatan) itu, termasuk memanfaatkan posisinya sebagai keluarga kerajaan atau kedekatannya dengan raja. Karena kekuasaan ini jugalah yang memaksa Lembu Sora seorang pejuang berdirinya Kerajaan Majapahit harus mati oleh kerajaan yang diperjuangkannya hanya karena difitnah orang dekat raja yang gila jabatan. Begitu juga dengan silsilah kerajaan-kerajaan

Aji mumpung ini masih berlanjut dalam masa selanjutnya, ketika pemerintah Kolonial Belanda menjajah Indonesia. Tidak sedikit juga orang Indonesia yang ikut “nimbrung” menjajah rakyatnya sendiri, para pejabat kerajaan yang akhirnya rela menjadi anak buah pemerintah kolonial. Mumpung masih bisa diterima Belanda, yang penting dapat untung, apa pedulinya dengan rakyat? Begitulah tampaknya yang mereka pikirkan. Ternyata perjuangan para oportunis Indonesia tidak hanya sampai situ saja. Hal ini berlanjut pada masa kemerdekaan, beberapa waktu yang lalu kita telah terbiasa memberikan uang tip kepada para penegak hukum yang bertugas di jalan supaya kita tidak kena tilang apabila surat-surat kelengakapan berkendara kita tidak lengkap. Pasti kita punya alasan masing-masing yang berbeda, tetapi yang jadi sorotan disini adalah para penegak hukum. Kapan lagi dapat uang bonus kalau tidak pas jadi polisi? Begitulah kira-kira yang mereka pikirkan.

Kedua, selain karakteristik manusia Indonesia diatas, masih ada satu lagi. Yaitu keengganan orang Indonesia untuk bersusah-susah dulu untuk mendapat kesenangan. Bukti yang nyata adalah pandangan orang Indonesia beberapa waktu yang lalu yang beranggapan bahwa sukses itu adalah ketika kita berhasil menjadi pegawai negeri yang notabene lebih rapi pakaiannya dan lebih ringan pekerjaannya dari pada menjadi petani yang harus berpanas-panas untuk mengais rejeki. Bukti yang lain adalah kasus penegak hukum tadi, selain aji mumpung mungkin mereka juga berpikir bahwa kalau mereka hanya mengandalkan gaji pokok untuk hidup, kapan akan jadi kaya?

Kenapa saya menghubungkan sifat-sifat tersebut diatas dengan kasus korupsi? Hal itu karena sifat-sifat itulah yang dimiliki oleh seorang koruptor. Dalam kadar yang tinggi, sifat-sifat tadi cukup berpotensi menjadikan seseorang menjadi koruptor besar. Memanfaatkan kesempatan itu baik dalam kadar yang cukup, tetapi kalau sifat itu kadarnya sudah sangat tinggi sampai lupa hak-hak dan kewajiban, maka sifat itu menjadi tidak lagi baik. Al-Amin Nasution pastinya adalah orang yang paling pintar memanfaatkan kesempatan dan ingin kaya.

Tentu saja hal-hal diatas hanyalah pendapat orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Siapa yang mau dikatakan bangsa oportunis yang tidak mau susah dan punya nenek moyang yang tidak berdedikasi? Namun setidaknya hal-hal diatas bisa menjadi cermin bagi kita sebagai anak bangsa Indonesia agar nantinya tidak menjadi bangsa yang selalu dibelakang hanya karena korupsi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar