“pagi yang terbuang”
Hari itu kumulai
Dengan pikiran berandai-andai
Atas kegagalan pagiku
Atas kenyataan hidupku
Beberapa jam yang lalu
Kutahu aku telah terjaga
Dalam suasana bertalu-talu
Dalam keadaan yang kuada-ada
Seharusnya aku bersyukur
Tuhan menjagaku di saat yang terukur
Dia menyadarkanku
Walau dia juga menggalaukanku
Suara-suara utusan tuhan itu
Menjadi bangsat di telingaku
Sentuhan-sentuhan malaikat itu
Menjadi monster dalam pandanganku
Mereka seperti anjing
Yang menjilat-jilat cacing
Cacing itu hanya menggeliat tak tahu apapun
Tunjukkan benci yang menahun
Setelah dua jam berlalu
Satu yang akhirnya kutahu
Bahwa aku telah membuang pagiku
Yang seharusnya menjadi awal hariku
“Si tegar”
Sebuah tanah lapang
Dengan sawah di kanan kiri
Dengan buku terpegang
Dia memulai hari-hari
Si tegar yang hitam itu
Rambutnya merah tak tersisir
Menyusuri jalan berliku
Menjelajahi alam pikir
Teruslah terjaga tegar…
Yakinkan masa depanmu
Buatlah dunia tersadar
Akan kehebatanmu
Semangat dan kerja kerasmu
Akan buktikan kepada dunia
Bahwa keterbatasanmu
Akan dianggap sebagai karunia
Si tegar yang hitam itu
Akan senantiasa teringat
Atas angin yang mendayu-dayu
Yang masuk ke dalam ubun-ubunnya yang pekat
jie, google search mu no working!!!!!!!!
BalasHapus