Kamis, 26 Maret 2009

dunia masih pagi

darto memang anak yang super sibuk, bayangkan mulai pagi sampai malem ada aja yang dikerjakannya. mulai yang menghasilkan uang sampai yang ga ngasilin apa-apa. pagi itu dia baru aja bangun jam setengah enam pagi, tiba-tiba handphone nya bergetar,

" halo, ini darto, ada apa yun?"
" dar, nanti malem kita maen yuk..." jawab yuni yang temennya darto itu.
" ok, ga ada masalah...." dengan entengnya darto iyakan saja ajakan itu.

setelah menjawab telepon barusan si darto langsung aja siap-siap pergi ke kantor karena sudah waktunya kerja. waktu nunjukin jam setengah tujuh, ini berarti dia harus telat beberapa menit karena perjalanan akan makan waktu setengah jam lebih sedikit.
"ga apalah bos pasti bisa ngerti, biasanya juga gitu". gumam darto.

memang bener, di kantor, sang bos memang bisa ngerti kalau darto harus telat karena jalanan macet. untuk urusan alasan, darto emang jagonya. ga ada masalah di kantor, sampe siang jam dua ketika waktunya pulang. jam kerjanya emang sampe jam dua aja. setelah itu dia harus pergi ke tempat laen, kalo yang ini adalah urusan bisnis pribadinya, tepatnya bisnis kerupuk. memang hidup ini harus terus berusaha coy, begitulah isi otaknya barangkali.

dua jam dia ngurusain keuangan bisnisnya dan dia dapet untung besar kali ini, disamping itu dia juga bantuin karyawannya memproduksi kerupuk. dan semuanya berjalan lancar sampe tiba waktunya kencan dengan si yuni. kencan inipun sukses besar karena pada dasarnya dia memang bakat untuk urusan kencan-kencanan.

"wow, hari ini gue sukses dalam hidup, kerja lancar, dapet masukan duit yang ga sedikit, bisa nyenengin cewek, aman dah pokokya". gumamnya dalam hati sembari memejamkan mata.

bersambung.............................

Senin, 09 Maret 2009

seks bebas dan pondok pesantren

Pada tanggal 06 Desember 2007 lalu koran Malang Pos melaporkan hal yang mengagetkan saya, bagaimana tidak? koran tersebut melaporkan bahwa ada seorang ibu yang tega membuang bayinya di sungai. Yang lebih mengagetkan lagi adalah ibu tersebut ternyata adalah seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi ternama dan seorang anak “kos-kosan” di wilayah Malang. Dilaporkan bahwa sang ibu terpaksa membuang bayinya karena kalut. Tentu saja, hal ini dikarenakan dia “membuat” bayi tersebut diluar akad pernikahan. Sang ibu ini mengaku melakukan hubungan seks pranikah dengan kakak tingkatnya dari perguruan tinggi yang sama. Dan pada akhirnya mereka menikah di kantor polisi.

Lebih jauh lagi, koran ini menambahkan berdasarkan statement dari Prof. Dr. Kasuwi Saiban, M. Ag salah seorang guru besar Universitas Merdeka Malang bahwa 85 % mahasiswi di kota Malang pernah melakukan aborsi. Dari survey yang dilakukan di lokasi kos-kosan di seputar kota Malang dilaporkan bahwa 17 dari 20 mahasiswi di kota Malang pernah melakukan aborsi. Tentu data ini masih dipertanyakan, akan tetapi setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perilaku seks bebas di kota Malang ada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Sementara itu, beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 01 Agustus 2002 Iip Wijayanto selaku direktur eksekutif Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) mengemukakan secara lisan bahwa 97,05 % mahasiswi Jogjakarta adalah tidak perawan. Menurut lip, penelitian itu dilakukan selama 3 tahun mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Yogya. Dari 1.660 responden itu, 97,05 % mengaku sudah hilang keperawanannya saat kuliah. Satu lagi bahwa penelitian Iip tersebut mayoritas dilakukan di lingkungan kos-kosan.
Tentu statement Iip ini patut diragukan kebenarannya, bagaimana tidak? Berdasarkan hasil penelitiannya, berarti 9 mahasiswi yang kita temui di Jogjakarta sudah tidak perawan lagi. Tetapi yang akan kita bahas di sini tentu bukan valid atau tidak validnya data-data di atas, melainkan tentang hubungan seks pranikah itu sendiri, bagaimana hal itu bisa terjadi di lingkungan kos-kosan mahasiswa, bagaimana pandangan Islam tentangnya dan bagaimana solusinya.

Fenomena anak kos-kosan
Kami pribadi tidak tahu pasti kapan pertama kalinya istilah ayam kampus muncul, tetapi saat ini istilah ayam kampus menggambarkan seorang mahasiswi yang “nyambi” sebagai “penjaja kenikmatan”. Kepopuleran istilah ini menunjukkan juga kepopuleran mereka, artinya bisa dikatakan bahwa saat ini jumlah mereka juga tidak sedikit(?). Fenomena ayam kampus ini memiliki benang merah dengan aborsi dan ketidakperawanan yang telah dibahas di atas yaitu semuanya adalah hubungan seks pranikah dan pelaku salah satunya adalah mahasiswi atau cewek yang sedang menempuh pendidikan tinggi.
Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita telusuri satu-persatu. Bermula dari keinginan untuk kuliah di perguruan tinggi ternama di wilayah-wilayah kota pendidikan seperti Jogjakarta, Surabaya, jakarta atau Malang, banyak para lulusan SMA sederajat dari daerah-daerah di Indonesia berbondong-bondong menuju wilayah-wilayah ini.

Selanjutnya setelah terdaftar, tentunya mereka kesulitan jika harus pulang-pergi dari rumah, sehingga dicarilah rumah kos atau kontrakan.
Dari sinilah permasalahan bermula. Ketika berbagai model remaja seusia berkumpul di dalam satu komunitas, maka yang terjadi adalah pertukaran, baik pertukaran pengalaman, budaya, sampai pertukaran foto, yang dulu adalah anak pesantren sekarang mulai mengenal anak-anak yang dulunya menyandang status preman, yang dulu anak rumahan sekarang mulai tahu lokasi-lokasi strategis untuk liburan, begitu juga anak yang dulunya “ndeso” kini mulai menjadi”gaul”. Dari sini terbentuklah suatu masyarakat tersendiri dimana masyarakat ini memiliki perilaku dan budaya tersendiri yang sedikit berbeda dari masyarakat pada umumnya. Mereka cenderung diidentikkan dengan suatu komunitas yang dinamis dan berpendidikan karena mudahnya mereka mengakses ilmu pengetahuan dan informasi.

Di satu sisi lain, sebagian dari mereka hidup di sebuah lingkungan bebas yaitu yang dinamakan lingkungan kos-kosan. Lingkungan ini terdiri dari anak-anak yang tinggal di rumah kos atau kontrakan. Ada beberapa hal mengapa mereka dinamakan lingkungan bebas. Pertama, mereka jauh dari orang tua, hal ini berarti mereka sudah tidak lagi mendapakan pengawasan secara ketat dari orang tua dan lebih jauh lagi bisa dikatakan bahwa transformasi budaya dari keluarga telah setengah terputus. Bagi perempuan yang dulunya dilarang keluar malam dengan laki-laki, kini tidak ada lagi yang melarang. Kedua, pengawasan masyarakat yang kurang. Jangankan mengawasi, kenal saja tidak. Memang kehidupan perkotaan dengan tingkat dinamisme tinggi kadang-kadang membuat kita tidak kenal orang lain. Kalau di desa, paling banyak satu tahun penduduk mendapat tetangga baru, sehingga mereka dengan mudah mengenal tetangganya. Tetapi di kota, setiap tahun ajaran pendidikan baru, penduduk kebanjiran tetangga-tetangga baru, sehingga sulit juga mengenal tetangga baru ini mengingat banyaknya jumlah mereka.

Seks bebas = binatang
Tentunya kita tidak keberatan jika dikatakan bahwa sex bebas berarti sama dengan binatang. Al-quran sendiri telah berkata: “janganlah kamu dekat-dekat dengan zina karena zina adalah keburukan dan seburuk-buruknya jalan”. Ayat ini juga sebagai dalil diharamkannya perbuatan zina.

Karena kita membahas tentang mahasiswa atau seseorang yang sedang menuntut ilmu, maka ada baiknya kita lihat dari kacamata pendidikan. Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin mengemukakan bahwa syarat pertama yang harus dipenuhi sebagai penuntut ilmu adalah membersihkan diri dari kotoran-kotoran akhlak dan buruknya sifat karena ilmu sesungguhnya adalah ibadahnya hati, sholat yang tersembunyi dan mendekatnya batin kepada Allah SWT. Diibaratkan oleh Al-Ghazali bahwa mencari ilmu tak ubahnya seperti sholat yang menuntut bersihnya anggota badan dari najis dan hadats. Mencari ilmu adalah ibadah batin dimana ibadah ini tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa bersihnya akhlak dan sifat dari keburukan-keburukan dan kenajisan-kenajisan.

Zina adalah seburuk-buruknya sifat dan najis. Oleh karena itu, bagaimana Indonesia bisa menjadi bangsa yang selamat dunia dan akhirat apabila para penuntut ilmunya adalah binatang(?).

Lingkungan Islami
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa menjauhi hal-hal tercela di atas sementara lingkungan kos-kosan saat ini ada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Jawabannya adalah pendidikan Islam dini dan lingkungan islami. Dalam ilmu psikologi kita mengenal teori konvergensi, yaitu teori yang menyatakan bahwa perubahan tingkah laku pada anak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu pengaruh yang datang dari diri sendiri dan pengaruh dari lingkungan.

Pertama, pendidikan Islam dini, maksudnya adalah penggemblengan nilai-nilai Islam sejak di usia dini. Poin ini ditujukan bagi para orang tua. Hendaknya TPQ-TPQ di kampung tidak ditinggalkan begitu saja. Biasanya anak-anak akan berhenti ngaji di TPQ akan berhenti setelah lulus SD atau SMP, padahal mereka belumlah mendapatkan cukup bekal agama jika hanya mengaji sampai SD saja. Hal seperti ini akan sangat berbahaya jika nanti mereka benar-benar lepas dari pengawasan orang tua (kos). Maka dari itu awasi mereka agar tetap mengaji, jangan sampai putus di tengah jalan. Kalau perlu biarkan mereka mengaji di pondok pesantren, hal ini akan lebih baik karena ilmu yang mereka dapatkan akan lebih banyak dibandingkan dengan mengaji di kampung.

Kedua, lingkungan Islami. Poin ini ditujukan kepada anak-anak tadi yang sekarang sudah benar-benar jauh dari orang tua (kos). Untuk membentuk lingkungan yang Islami ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu: pertama, carilah teman-teman yang baik. Imam Al-Ghazali lagi-lagi mengingatkan kita untuk mencari teman-teman yang baik dan dapat mengingatkan kita kepada kebaikan. Hal ini tentunya karena mengingat pengaruh teman kepada kita yang ternyata begitu besar. Teman di sini maksudnya adalah teman yang setiap saat ada di sekeliling kita, atau lebih tepatnya kita sebut sahabat, contohnya teman geng, teman kos atau teman nongkrong. Kedua, peduli dan saling mengingatkan sesama anggota teman. Ada banyak cara untuk saling mengingatkan, salah satu contohnya adalah buatlah kegiatan-kegiatan rutin yang bersifat Islami, seperti tahlilan rutinan setiap satu minggu sekali. Tahlilan seperti ini akan sangat membantu karena kadang-kadang kita sulit untuk mengingatkan secara langsung.

Pondok pesantren sebagai alternatif

Kalau diibaratkan sebagai obat kesuksesan, maka pondok pesantren adalah obat alternatif yang sangat mujarab. Dikatakan alternatif karena tidak banyak orang yang menggunakan obat ini atau terkadang menjadi pilihan kedua, lihat saja orang kaya yang ingin anaknya sukses, dia akan lebih memilih untuk menguliahkannya di Universitas ternama plus fasilitas-fasilitas yang bisa membuat orang menjadi materialistis dari pada “memondokkan” anaknya. Begitu juga dikatakan mujarab karena komposisi di dalamnya komplit mulai dari penanaman nilai-nilai Islami sebuah lingkungan Islami untuk mendukung proses belajarnya.

Pondok pesantren memang komplit. Melalui pengajian-pengajian rutin, anak-anak mendapat porsi pengetahuan agama yang cukup. Sehingga setidaknya mereka mengetahui halal dan haram. Begitu juga dengan para pendidik yang tinggal dengan mereka setiap harinya akan menciptakan suatu lingkungan yang sesuai dengan ajaran Islam. Kalaulah mereka tidak mendapatkan kedua-duanya, setidaknya mereka dapat hidup di dalam suatu lingkungan yang aman dalam arti yang sesungguhnya. Bagi para mahasiswa yang jauh dari orang tua orang tua juga bisa memanfaatkan obat alternatif ini. Di daerah Malang ada banyak pesantren mahasiswa dengan model yang disesuaikan yang dapat dijadikan penangkal racun kebebasan di atas.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi tampaknya lingkungan yang ada di kota-kota pendidikan negeri tersebut malah mengarah menjauh dari Islam, sungguh sebuah hal yang ironis dan mengkhawatirkan. Barangkali seperi inilah yang menumbuhkan banyak koruptor di negeri ini. Sementara coba bayangkan ketika kota-kota pendidikan di Indonesia dipenuhi oleh komunitas-komunitas Islam dimana komunitas ini mendominasi warnet-warnet, tempat-tempat pengajian, markas-markas UKM, warung-warung kopi dan tempat-tempat lain, pasti akan terlihat indah bukan? (wallahu a’lam).

Jumat, 06 Maret 2009

"pagi yang terbuang"

“pagi yang terbuang”

Hari itu kumulai
Dengan pikiran berandai-andai
Atas kegagalan pagiku
Atas kenyataan hidupku

Beberapa jam yang lalu
Kutahu aku telah terjaga
Dalam suasana bertalu-talu
Dalam keadaan yang kuada-ada

Seharusnya aku bersyukur
Tuhan menjagaku di saat yang terukur
Dia menyadarkanku
Walau dia juga menggalaukanku

Suara-suara utusan tuhan itu
Menjadi bangsat di telingaku
Sentuhan-sentuhan malaikat itu
Menjadi monster dalam pandanganku

Mereka seperti anjing
Yang menjilat-jilat cacing
Cacing itu hanya menggeliat tak tahu apapun
Tunjukkan benci yang menahun

Setelah dua jam berlalu
Satu yang akhirnya kutahu
Bahwa aku telah membuang pagiku
Yang seharusnya menjadi awal hariku

“Si tegar”

Sebuah tanah lapang
Dengan sawah di kanan kiri
Dengan buku terpegang
Dia memulai hari-hari

Si tegar yang hitam itu
Rambutnya merah tak tersisir
Menyusuri jalan berliku
Menjelajahi alam pikir

Teruslah terjaga tegar…
Yakinkan masa depanmu
Buatlah dunia tersadar
Akan kehebatanmu

Semangat dan kerja kerasmu
Akan buktikan kepada dunia
Bahwa keterbatasanmu
Akan dianggap sebagai karunia

Si tegar yang hitam itu
Akan senantiasa teringat
Atas angin yang mendayu-dayu
Yang masuk ke dalam ubun-ubunnya yang pekat

Syariah atau sekuler?

Ketika Eropa masih diselimuti masa kegelapan, peradaban telah berada pada titik puncaknya. Peran kebalikannya terjadi melalui kolonialisasi terhadap hampir seluruh wilayah muslim dari Asia timur hingga Afrika Barat, selama abad ke-18 dan ke-19, oleh kekuatan-kekuatan Eropa. Kolonialisasi tersebut menghancurkan mozaik eradaban Islam dan memecah-belah umat Muslim dengan menciptakan negara-negara yang tersentralisasi dan berdiri sendiri yang dipimpin oleh elit birokrat-militer sekuler pasca kolonial.

Kaum Muslimin telah lama mencari jalan untuk memecahkan situasi demikian, mencari kontrol atas kehidupan kolektif mereka dan mengaitkan masa lampau dengan masa depan mereka. Sebagian dari mereka mengusulkan negara sekuler gaya barat; sebagian lainnya mendukung masyarakat yang diperintah oleh syariah; bahkan sebagian lainnya mendukung berusaha mencari sintetis antara Islam, nasionalisme, demokrasi dan kemampuan-kemampuan teknis modern.1

Pasca Perang Dunia II, ketika kebanyakan negara Muslim telah merdeka dari penjajahan Eropa, ideologi utama dari gerakan-gerakan protes dan pembaruan radikal dibentuk oleh perspektif Barat, baik itu demokrasi, sosialis, maupun Marxisme. Negara-negara merdeka dengan mayoritas penduduk Muslim bergabung dalam dunia negara-negara yang berdaulat. Sistem politiknya baik yang berbentuk republik, radikal maupun kerajaan konservatif, mengembangkan struktur-struktur yang pada dasarnya termasuk dalam kerangka negara-bangsa yang modern. Perkembangan ini menentukan konteks politik di dunia Muslim pada paro kedua abad ke-20. Tampil sebagai satuan-satuan politik yang berwujud negara-bangsa, umat Islam bermain di panggung politik internasional dan domestik.2

Adapun tersebut di atas adalah tinjauan sejarah secara global, yang ternyata berdampak langsung kepada perkembangan politik Indonesia. Ketika Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk merdeka, terjadi perdebatan serius antara golongan nasionalis sekuler yang diwakili oleh Soekarno dengan golongan nasionalis Islam yang diwakili oleh Muhammad Natsir tentang dasar negara yang akan dipakai Indonesia nantinya. soekarno mengusulkan agar Indonesia menggunakan dasar negara yang sifatnya sekuler, yaitu pemisahan antara agama dengan urusan kenegaraan dengan mencontohkan Turki sebagai negara yang dinilainya berhasil membangun kemajuan. Sedangkan Natsir mengusulkan agar Indonesia menggunakan Syariah dalam menjalankan urusan kenegaraan.

Dan sekarang pun dengan bentuk yang sedikit berbeda, perdebatan tersebut masih saja menghantui Indonesia yang semakin tidak jelas bentuknya. Ada usul?

1 Abdul Rashid Moten, Ilmu Politik Islam, 1996, hal. v

2 John L. Esposito dan John O.Voll, Islam and Democrazy, 1996, hal. 4

Sejarah Buruk Bangsa Indonesia

Kalau melihat berita-berita tentang korupsi di televisi, kadang-kadang kita jadi berfikir kenapa mereka sampai hati melakukan perbuatan keji seperti itu. Mencuri uang rakyat bermilyar-milyar rupiah yang berarti juga menambah penderitaan anak-anak yang putus sekolah, orang-orang tua yang tidak punya tempat tinggal atau kampung-kampung terpencil yang belum ada saluran listriknya. Kemudian kita jadi bertanya, adakah penjelasan yang mungkin untuk menjawab pertanyaan diatas? Adakah sebab yang mungkin membuat mereka (para koruptor) bisa menjadi raja tega seperti itu. Kalau penjelasan yang mungkin pastinya ada.

Pertama, hal tersebut mungkin karena sifat dan karakteristik manusia Indonesia sendiri yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan (jawa=aji mumpung). Setidaknya hal ini dibuktikan oleh sejarah panjang bangsa Indonesia sendiri. Ketika Indonesia masih dalam masa kerajaan, banyak orang yang ingin mendapat kekuasaan meskipun itu pejabat rendahan karena mereka berfikir bahwa dengan jabatan itu mereka bisa mengeruk keuntungan dari pajak rakyat, mumpung bisa dapat uang dengan mudah. Sehingga selanjutnya apapun dilakukan untuk mendapatkan jabatan (baca-kesempatan) itu, termasuk memanfaatkan posisinya sebagai keluarga kerajaan atau kedekatannya dengan raja. Karena kekuasaan ini jugalah yang memaksa Lembu Sora seorang pejuang berdirinya Kerajaan Majapahit harus mati oleh kerajaan yang diperjuangkannya hanya karena difitnah orang dekat raja yang gila jabatan. Begitu juga dengan silsilah kerajaan-kerajaan

Aji mumpung ini masih berlanjut dalam masa selanjutnya, ketika pemerintah Kolonial Belanda menjajah Indonesia. Tidak sedikit juga orang Indonesia yang ikut “nimbrung” menjajah rakyatnya sendiri, para pejabat kerajaan yang akhirnya rela menjadi anak buah pemerintah kolonial. Mumpung masih bisa diterima Belanda, yang penting dapat untung, apa pedulinya dengan rakyat? Begitulah tampaknya yang mereka pikirkan. Ternyata perjuangan para oportunis Indonesia tidak hanya sampai situ saja. Hal ini berlanjut pada masa kemerdekaan, beberapa waktu yang lalu kita telah terbiasa memberikan uang tip kepada para penegak hukum yang bertugas di jalan supaya kita tidak kena tilang apabila surat-surat kelengakapan berkendara kita tidak lengkap. Pasti kita punya alasan masing-masing yang berbeda, tetapi yang jadi sorotan disini adalah para penegak hukum. Kapan lagi dapat uang bonus kalau tidak pas jadi polisi? Begitulah kira-kira yang mereka pikirkan.

Kedua, selain karakteristik manusia Indonesia diatas, masih ada satu lagi. Yaitu keengganan orang Indonesia untuk bersusah-susah dulu untuk mendapat kesenangan. Bukti yang nyata adalah pandangan orang Indonesia beberapa waktu yang lalu yang beranggapan bahwa sukses itu adalah ketika kita berhasil menjadi pegawai negeri yang notabene lebih rapi pakaiannya dan lebih ringan pekerjaannya dari pada menjadi petani yang harus berpanas-panas untuk mengais rejeki. Bukti yang lain adalah kasus penegak hukum tadi, selain aji mumpung mungkin mereka juga berpikir bahwa kalau mereka hanya mengandalkan gaji pokok untuk hidup, kapan akan jadi kaya?

Kenapa saya menghubungkan sifat-sifat tersebut diatas dengan kasus korupsi? Hal itu karena sifat-sifat itulah yang dimiliki oleh seorang koruptor. Dalam kadar yang tinggi, sifat-sifat tadi cukup berpotensi menjadikan seseorang menjadi koruptor besar. Memanfaatkan kesempatan itu baik dalam kadar yang cukup, tetapi kalau sifat itu kadarnya sudah sangat tinggi sampai lupa hak-hak dan kewajiban, maka sifat itu menjadi tidak lagi baik. Al-Amin Nasution pastinya adalah orang yang paling pintar memanfaatkan kesempatan dan ingin kaya.

Tentu saja hal-hal diatas hanyalah pendapat orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Siapa yang mau dikatakan bangsa oportunis yang tidak mau susah dan punya nenek moyang yang tidak berdedikasi? Namun setidaknya hal-hal diatas bisa menjadi cermin bagi kita sebagai anak bangsa Indonesia agar nantinya tidak menjadi bangsa yang selalu dibelakang hanya karena korupsi.